High School Damn Memories

Ini adalah buku pertama gue. Meskipun masih self-publishing dan terkesan belum maksimal, tapi gue sudah cukup bersyukur telah menghasilkan karya sebesar ini. Jika ingin membacanya, silahkan hubungi saya, dan pesan bukunya sekarang juga!

Muhammad Zopi CP17 the Close-Up Illusionist

Salah satu hobi terbesar gue adalah sulap. Gue menguasai hampir semua jenis aliran sulap, tapi lebih fokus di Close-Up Illusion atau ilusi jarak dekat. Silahkan lihat artikel dan video aksi sulap gue di sini!

Islam Aswaja NU

Organisasi Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah di Indonesia adalah Nahdlatul Ulama. NU terkenal dengan amalan sunnah-sunnahnya yang sangat banyak. Dan alhamdulillah, gue juga salah satu dari jutaan pengikut NU. Sedikit info mengenai NU bisa lo baca di sini!

Showing posts with label Notes. Show all posts
Showing posts with label Notes. Show all posts

Tuesday, August 27, 2013

Spesies-spesies Yang Hinggap di Facebook

Hai kancuters! Udah lama banget nih gue gak nulis di blog. Kemaren gue buka blog gue ini, eh busyet, udah berdebu sodara-sodara! Sayang banget kan kalau ditelantarin begitu aja. Mau gue jual di Toko Bagus juga palingan laku ceban doang. Nah akhirnya gue bersihin aja deh debu-debunya. Dan setelah blog ini gue sapu dan gue pel juga pakai Superpel, gue pun jadi terbesit buat nulis lagi deh.

Oke hentikan omong kosong itu sekarang juga. Jadi, yang akan gue tulis kali ini adalah soal Facebook. Bukan mempergunjingakan si Facebook-nya, tapi gue mau mempergunjingkan pengguna-penggunanya. Lo pasti menyadari akan satu hal, bahwa ada bermacam-macam tipe pengguna Facebook di dunia ini, khususnya di Indonesia. Dan apa aja macam-macam pengguna Facebook tersebut? Dan apa aja yang mereka lakukan di Facebook? Berikut pencerahan dari gue.

Pada dasarnya pengguna Facebook dibagi menjadi dua, yaitu Pengguna Terang-terangan dan Pengguna Sembunyi-sembunyi. “Busyet kayak dakwahnya Rasulullah SAW aja Zop, ada sembunyi-sembunyi ama terang-terangan.” Iya ya, baru nyadar gue. Gak papa lah. Ya, pokoknya itu pembagiannya. Penjelasannya sebagai berikut.

1.      1. Pengguna Terang-terangan

Berdasarkan penjelasan dari Prof. Dr. Ir. KH M. Shofiyullah, MBA, MTQ, MDA, TPQ, “Itu lo Zop?” Bukan. “Kok namanya sama?” Udah diem aja sih lo berisik! Nah berdasarkan pernyataan beliau, Pengguna Terang-terangan adalah spesies yang secara aktif melakukan aktivitas di Facebook, dan dia dengan sengaja memperlihatkan aktivitasnya  ke pengguna Facebook lain dengan tujuan cara dan tujuan tertentu. Ciri-cirinya adalah: jika dia online, maka dia nyalakan lampu ijo tanda online di chatlist; setting privacy status-statusnya adalah public atau friend; rata-rata banyaknya update status dalam sehari adalah sekali sampai tak terhingga; komen dan like activity orang lain suka-suka tanpa pandang bulu.

Pengguna Terang-terangan dibagi lagi menjadi:
a.       Tukang update
Nah, si Tukang Update ini bakalan update 5 sampai tak terhingga dalam sehari. Semakin banyak status yang diupdate, semakin gak jelas pula statusnya. Semacam, “Aduh gimana ini? Aku takut.”, “Ngerasa gimana gitu.”, “Mboh lah sekarepmu!” dan sebagainya. Jadi dia gak jelas sebenernya lagi ngomongin apaan. Ada juga yang statusnya gini, dia nulis status apa gitu bla bla bla, dan kemudian pasti diakhiri dengan *jedotin pala ke tembok*, *ambil HP dan masuk ke WC*, *lepas celana dan terjung ke jurang*, dan sebagainya. Nah makin gila kan? Contoh dari spesies ini adalah temen gue yang berpanggilan Tewol alias Tamu Harap Lapor.

b.      Tukang share
Nah kalau yang ini lebih heboh lagi nih. Intensitas sharingnya lebih kurang sama lah kayak intensitas nyetatusnya si Tukang Update. Dan yang biasa dia share adalah kata-kata mutiara dari public figure dan semacamnya. Contoh share-sharean yang paling sering nongol di beranda gue adalah kata-katanya Dirwas Tiri Leyi sama Moria Tugeh. Itu paling sering banget tuh. Padahal kata-katanya cuma, “Ingatlah bahwa kebaikan ibu tidak terbalaskan, maka dari tidak perlu kalian balas,” dan sejenisnya. Oke kalau yang barusan ini kata-kata sesat, jangan dibaca.
Ada juga yang sukanya ngeshare konten-konten islami, yang kayak gini juga banyak banget nih. “Lhah bagus dong Zop?” Iya bagus. Cuma masalahnya terkadang mereka gak pahami dan filter dulu apa yang mau mereka share. Dan yang lebih bermasalah lagi, kadang mereka jadi lebih percaya ajaran share-sharean Facebook, daripada ajaran Kyai-kyainya.
Ada juga yang sukanya ngeshare berita-berita politik dan semacamnya. Ini gak begitu banyak tapi ada. Kayak temen gue si Rodif. Biasanya orang kayak gini dalam 20 tahun ke depan bakalan nyalonin jadi presiden. Paling gak ketua RW lah.

c.       Tukang upload
Pasti lo bakalan ngebayangin kalau spesies ini adalah para alayer-alayer. Anda benar! Tapi tidak 100% benar. Memang tukang upload mayoritas didominasi para alayers, dimana mereka akan upload foto 3 sampai tak terhingga setiap harinya. Fotonya ada bermacam-macam. Ada foto dirinya yang kadang dibagi-bagi 4 kayak martabak, ada yang fotoin makanan, dsb. Gue jadi bingung, sekarang orang mau makan bukannya doa malah moto-motoin makanannya. Gue jadi terbesit buat moto kotoran gue sebagai tandinan mereka dah.
Nah selain alayers, ada juga pedagang. Si pedagang ini juga sering ngupload foto. Contohnya si Ayu. Dia upload foto sering banget tuh, terus temen-temen yang bahkan kadang gak dia kenal, dia tagin segala. Apalagi kalau menjelang lebaran, kemampuan menguploadnya bisa meningakt 700 kali lipat sodara-sodara! Ramadlan kemaren gue pernah ditag di foto produk yang dijual si Ayu. Kalau gak salah foto kutang elastis unisex.

d.      Tukang invite
Ini spesies entah saking nganggurnya atau gimana, kerjaannya maen game mulu. Dan mungkin karena takut maen sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk invite temen-temennya buat nemenin dia maen game juga. Invinte-an yang paling santer adalah Criminal Case, Candy Crush, Tetris Battle, dan Gobak Sodor. Contoh dari spesies ini adalah Nadia.

2.       2. Pengguna Sembunyi-sembunyi

Si pengguna Facebook yang sembunyi-sembunyi adalah spesies yang sangat mengerikan. Pergerakan dia gak akan bisa lo deteksi. Dia bergerak dengan kesunyian, memantau lo dari belakang, dan ketika lo lengah, dia akan menerkam, mencabik-cabik, dan memakan lo hidup-hidup!!! “Busyet itu pengguna Facebook apa beruang Zop?!” Hahahaha dua-duanya mungkin. Nah, ciri-ciri dari spesies ini adalah: jika online, dia matikan lampu ijo di chatlist; dia jarang update status atau upload foto, bahkan ketika ditag orang, bakalan dia remove; privacy pada umumnya adalah friend atau tagged only, bahkan tidak jarang yang sampai only me; hanya ngelike dan ngomen activity orang yang menurutnya pantas dijadiin mangsa.

Pengguna Sembunyi-sembunyi dibagi menjadi:
a.       Tukang like
Ini ngeri banget sumpah. Lo update status, tahu-tahu ada yang ngelike, padahal di chatlist si liker tersebut gak online, kan ngeri tuh! Jadi mereka semacam makhluk halus yang bisa tahu activity lo, sementara lo gak tahu activity mereka. Ngeri kan?! Dan tukang like ini dibagi lagi menjadi 2 kategori, yaitu tukang like harian sama tukang like borongan. Bedanya, kalau tukang like harian, begitu lo update status, tahu-tahu entah dari mana datangnya spesies ini bakalan ngelike status lo. Dan hebatnya, setiap lo update status, pasti dia langsung ngelike dalam sepersekian mikro detik. Contoh dari spesies ini adalah Amri.
Dan yang kategori tukang like borongan lebih freak lagi. Mungkin karena dia jarang ke warnet atau gimana, dia bakalan ngelike-in status lo secara borongan. Pertama lo update status fine-fine aja nih gak ada apa-apa. Besoknya lo update status lagi, tetep aman. Besoknya lagi lo update status dan masih belum ada bahaya yang mengancam. Dan begitu seminggu, tahu-tahu ada puluhan notifications yang isinya spesies ini ngelike-in semua status lo yang belum dia like. GILA!!! Itu bener-bener bikin merinding! Semacam ngasih pesan secara diam-diam ke lo bahwa ada yang mengancam kehidupan lo. Ngeri.

b.      Tukang seperlunya
Spesies ini sebenarnya layaknya manusia normal, tapi dia bergerak secara sembunyi-sembunyi. Dia jarang update status, tapi beberapa kali ngelike dan ngomenin status orang. Tapi tetep aja, secara diam-diam alias sembunyi-sembunyi, dan hanya seperlunya saja. Gak jarang juga ngechat lo padahal dalam keadaan offline. Jadi gue kayak semacam ngobrol sama mayat gitu, mati, tapi masih nyambung sama yang lo omongin. Contoh dari spesies ini adalah Atika.

c.       Tukang nyecroll
Kalau spesies ini, gimana ya ngomongnya, gue jadi gak enak, hmmm gini, jadi spesies Tukang Nyecroll ini adalah spesies yang nganggurnya tidak ada duanya. Dia hanya lihatin homepage Facebook, discrollin naik turun ke atas dan ke bawah, ke utara dan ke selatan, tanpa melakukan apa pun. Dia cuma baca status dan lihati foto orang, tanpa melakukan apa-apa. Kalau gue bilang, spesies ini agak psycho sih.


Oke jadi itulah pembagian spesies-spesies yang ada di Facebook sodara-sodara. Sekian bualan omong kosong dari gue. Kalau ada yang ingin menanggapi, menambahkan, atau menghina gue, silahkan tulis aja di komentar pos ini. Oke gue permisi dulu… “Bentar bentar Zop! Kalau lo sendiri termasuk spesies yang mana? Lo ngapain aja kalau buka Facebook?” Gue paling suka lihatin hompage bolak-balik dari atas ke bawah.

Oke sekian. Dan wassalamu’alaikum!

Monday, February 18, 2013

Siang di Seberang Istana-istana


Belum lama ini gue liburan UAS semester 5, dan tentu saja gue pulang kampung ke Pekalongan. Dan kebetulan gue sempet jalan-jalan ke pusat kota. Di sana gue lihat pemandangan yang biasa. Ya pemandangan biasa yang sangat biasa. Dan seperti biasanya lagi, saya merasa sedih melihatnya. Ya, hanya bisa merasa sedih seperti biasanya. "Sebenernya apa sih yang lo lihat, Zop?" Gue lihat seorang bapak-bapak duduk lesuh di pinggiran alun-alun kota. Beliau adalah seorang tukang sol dan semir sepatu, kawan. Beliau duduk, bengong melompong, melihat orang-orang yang tertawa bahagia sambil turun dari mobil-mobilnya, dan hendak masuk ke mall dan toko-toko mewah di sekitar sana. Beliau melihat mereka, tapi terlihat jika pikirannya entah lagi dimana. Ya, sekali lagi gue cuma bisa merasa sedih dan iba. Tanpa bisa membantu apa-apa.

Dan kemaren, hari Rabu, gue kuliah Audit Keuangan Sektor Pemerintah untuk pertama kali. Namun seperti kuliah mata kuliah yang lainnya, ya seperti biasa, gue gak dengerin apa yang dosen gue omongin. Seperti biasanya gue cuma corat-coret gak pasti. Dan saat itu, entah kenapa gue jadi teringat Bapak tukang sol-semir yang di Pekalongan tadi. Dan akhirnya gue ambil selembar isi binder kosong, dan gue bikin lah gambar ini.

Gambar ini gue kasih judul "Siang di Seberang Istana-istana". Dan gue kasih puisi, yang gue ambil dan gue edit dari lagunya Bang Iwan Fals yang berjudul Siang Seberang Istana. Ya, intinya ini adalah sebuah bentuk rasa sedih gue melihat Bapak sol-semir tadi. Memang hanya ini yang bisa lakuin. Setidaknya untuk saat ini. Semoga suatu saat nanti, gue bisa memberi sesuatu yang lebih berarti bagi beliau dan saudara-saudara senasib. Dan semoga beliau-beliau ini berhak diangkat derajatnya oleh Allah SWT, baik di dunia maupun akhirat. Amin ya Robbal 'alamin.


"SIANG DI SEBERANG ISTAN-ISTANA"

Seorang tua bertubuh dekil
Terbengong memangku tangan
Tertabur debu jalanan

Sebotol air bersebelah berdiri
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang istana-istana

Kotak sol semir yang sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata yang sudah terbiasa

Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah di atas tubuh yang resah
Ribuan jerit di depan hidung dan matamu
Namun yang ku tahu, tak terasa mengganggu

Gema adzan Ashar sentuh telinga
Buyarkan bengong si tua siang tadi
Dia berdiri malas melangkahkan kaki
Diraihnya harapan digenggam tak dilepaskan lagi

Diambil dan diedit dari: Siang Seberang Istana, oleh Iwan Fals.

Tuesday, February 12, 2013

Tanya Jawab Seputar Gus Dur dan Keberagaman


Gong Xi Fa Cai, selamat tahun baru Imlek! “Yahhh Zop, lo telat amat hari gini baru ngucapin. Kan tahun baru Imleknya udah kelwat.” Iya maklum, gue kan orangnya sibuk. Lagian kalau gue baru ngucapi sekarang gak ada salahnya kan? Yang penting adalah ucapannya, bukan kapan ngucapinnya. Menurut gue sih.

Oke, ngomongin soal Imlek. Ya, tahun ini Imlek jatuh pada hari Minggu kemaren, tanggal 10 Februari. Nah kebetulan hari itu gue seharian berada di perjalanan dari kampung halaman menuju ke pinggiran Jakarta karena liburan semester 5 udah selesai. Jujur aja, gue lupa kalau hari itu adalah tahun baru Imlek. Begitu sampai kosan sorenya, gue cuma duduk bentar. Abis maghrib, gue langsung cabut karena udah janji mau ngajar les murid gue. Abis ngajar, belum sempet ngapa-ngapain, cuma sempet sholat isya doang, gue langsung diajak temen-temen IMAN (Ikatan Mahasiswa Nahdliyin) buat menghadiri peringatan Maulid Nabi di Bintaro sektor 9 dengan pembicara Bapak KH. Hasyim Muzadi waktu itu. Tentu saja gue gak pakai pikir panjang dan langsung nurutin ajakan itu. Baru lah sepulang dari sana gue sempet buka laptop, dan seperti biasa cuma buka Facebook dan Twitter. Tapi ada yang menarik di sana. Terutama di Twitter, banyak sekali twit yang berisi tentang “Gus Dur” dan “Imlek”. Oh ya benar, gue jadi inget bahwa guru kita, Gus Dur, pernah berjasa besar dalam memperjuangkan “publikasi” Imlek di Republik Indonesia ini. Nah dari melihat twit-twit itu lah, otak gue jadi terbesit buat bikin postingan yang berisi tanya-jawab tentang Gus Dur dan Imlek ini.

Tanya-jawab, gue sebagai penanya, dan tentu harus ada pihak yang menjawab dong. Dan gue pilih lah temen gue, Fransiskus Indra Pratama. Dia adalah temen gue yang juga kuliah di STAN, kita sama-sama pesulap, dan dia mempunyai garis keturunan Tionghoa. Nah cocok banget kan? Sebenernya sih banyak yang bilang kalau muka gue juga mirip Tionghoa, tapi masa iya gue yang nanya, gue juga yang jawab. Jadi aneh kan? “Lo ngomong gitu lagi gue mutilasi sumpah, Zop!” Hahahaha iya iya bercanda. Nah, berhubung si Indra gak keberatan dan bersedia untuk gue tanyain, langsung gue tanya-tanya ke dia. Dan kita simak tanya-jawab tersebut sekarang juga!


Gue:
“Oke ndra. Pertanyaan pertama. Apa arti Imlek beserta perayaannya bagi temen-temen Tionghoa?”

Indra:
“Imlek tuh perayaan tahun baru. Kan pas Imlek tepat tanggal 1 tahun Cina tuh. Ya kayak tahun baruan biasa. Kita keluarga besar kumpul-kumpul terus makan-makan.”


Hmmm jadi mirip tahun baru Hijriyah gitu kali ya? Kita kumpul berjamaah buat membaca doa-doa bersama dilanjut makan-makan buat tasyakuran gitu. Oke, next!


Gue:
“Oh ya, kira2 apa yang dirasain masyarakat Tionghoa ketika dulu perayaan Imlek sempet dilarang untuk dilakukan secara umum?”

Indra:
“Ya pastinya merasa didiskriminasikan, tertekan, dan marah lah.”

Gue:
“Iya pastinya ya? Nah itu kan gara-gara Inpres Nomor 14 Tahun 1967 kan ya? Sebagai warga RI yang juga keturunan Tionghoa, gimana tanggapan lo atas peraturan tersebut?”

Indra:
“Eh peraturan apaan itu? Gue kok gak tahu.”

Gue:
“Yaelah kok lo malah gak tahu tuh gimana? Itu peraturan yang isinya pembatasan perayaan masyarakat Tionghoa.”

Indra:
“Hahaha ya maklum. Gue kan hidup udah pada masa damai.”

Gue:
“Oke deh lanjut aja kalau gitu. Nah, Inpres tersebut dicabut oleh Gus Dur, kira-kira sosok seperti apakah Gus Dur ini bagi lo pribadi dan temen-temen Tionghoa?”

Indra:
"Gus Dur adalah sosok yang mau menerima dan menghargai perbedaan. Dan sosok yang sangat berjasa sehingga terbukanya kesempatan untuk mengekspresikan diri sebagai orang Tionghoa.”

Gue:
“Maaf nih, ndra. Sedikit keluar dari masalah Imlek. Gue pernah lihat sendiri di youtube bahwa Gus Dur mendukung Pak Ahok waktu nyalonin jadi gubernur Bangka Belitung tahun 2007. Tapi kemarin ada "beberapa golongan" Islam, yang seakan tidak setuju pencalonan Pak Ahok sebagai Cawagub DKI. Apa tanggapan lo mengenai hal ini?”

Indra:
“Mmmm kalo gue pribadi sih biasa-biasa aja. Gue ngeliat itu cuma isu untuk menarik dukungan pada pasangan yang lain. Toh ini negara indonesia, negara multikultural. Asal dia WNI maka dia dapat mencalonkan diri dong.”

Gue:
“Iya bener banget. Oh ya, ngomong-ngomong kalau pada waktu sekarang ini, maaf ya, masih ada gak hal-hal yang “berbau” diskriminasi bagi masyarakat Tionghoa?”

Indra:
“Oh ya menurut gue ada. Jadi gini ceritanya. Waktu nyokap gue mau bikin paspor kemaren, di situ disuruh nyertain surat keterangan sudah WNI, dan juga surat keterangan orang tuanya juga. Padahal dari lahir sudah di Indonesia.”

Gue:
“Maaf nih, ndra. Intinya nyokap lo "seolah dianggap" bukan WNI gitu?”

Indra:
“Gak ngerti dah. Emang susah sih kalo muka Cina. Wkwkwkwk. Pokoknya pas bikin paspor gitu lah, diminta surat keterangan WNI, terus surat sudah melepaskan kewarganegaraan Tionghoa nya engkong.”

Gue:
“Wah parah banget berarti ya. Oke pertanyaan terakhir nih. Waktu peringatan 1000 hari meninggalnya Gus Dur, di situ banyak hadir temen-temen Tionghoa, baik yang muslim maupun yang non muslim. Di sana Gus Mus menyuruh kami, orang NU dan pengikut Gus Dur, untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur atas temen-temen Tionghoa. Nah, kira-kira apa yang "masih" perlu kami lakukan buat melanjutkan perjuangan itu?”

Indra:
“Mmmm gue kan sebagai mahasiswa tingkat akhir di STAN, yang bentar lagi terjun di dunia birokrat. Gue sepintas ngeliat, orang-orang yang keturunan tuh seperti di nomer-dua-kan bahkan kalo perlu dipersulit ini itunya di dunia birokrasi. Gue sih berharap teman-teman dari NU mau membantu juga dalam menyamaratakan warga keturunan maupun warga asli.”

Gue:
“Oke thanks banget, ndra. Semoga bermanfaat bagi gue pribadi dan syukur-syukur manfaat juga bagi temen-temen yang laen. Sukses selalu.”

Indra:
“Oke sip sama-sama.”


Nah kisanak, jadi itu tadi sedikit tanya-jawab gue dengan temen gue mengenai Gus Dur dan Imlek. Nah tapi gue gak berhenti di sini. Soalnya kalau ngomongin tentang Gus Dur, tentu gak cuma Imlek yang kita bicarakan. Tapi juga seluruh keberagaman dan perbedaan yang selalu diperjuangkan oleh beliau. Nah maka dari itu gue minta tolong sama temen gue lagi, Amri, untuk menjadi penjawab dari pertanyaan-pertanyaan gue lainnya. Amri adalah temen sekelas gue sekarang, dia adalah seorang Kristian, tapi juga mengagumi sosok Gus Dur. Kalau lo masih inget, dia adalah temen yang dulu menanyakan ke gue kenapa gue mengucapkan selamat Natal ke dia, padahal gue adalah orang Islam. Oke langsung aja, kita simak tanya-jawab gue dengan Mas Amri ini.


Gue:
“Mas, mas kan kagum gitu sama Gus Dur, nah menurut mas, Gus Dur itu sosok yang gimana?”

Amri:
“Ya gak jauh beda dengan kabar pada umumnya. Menurut saya pribadi, Gus Dur itu sosok yg luar biasa. Benar-benar bapak pluralisme yg bisa dibilang pahlawan bagi kaum-kaum minoritas. Bahkan baru-baru ini beliau dapat anugerah "Legacies of Pluralisme, Diversity and Democracy' (Pusaka-pusaka Pluralisme, Kebhinnekaan, dan Demokrasi). Sungguh pencapaian yg luar biasa.

Gue:
“Wah mas sampai tahu segitunya. Hebat. Oke mas, kemaren kan kita baru saja diramaikan dengan perayaan Imlek. Dan kita tahu, Gus Dur berperan dalam mempublikasikan Imlek di Indonesia. Menurut mas, apa yang dirasakan temen-temen Tionghoa dengan adanya peran Gus Dur ini?”

Amri:
“Kalau ngomong perasaan masyarakat Tionghoa saya tidak tau “pasti”, mas. Karna saya sendiri bukan orang Tionghoa. Hahahaha. Namun, menurut terkaan saya, perasaan mereka  senang, gembira, dan bahagia. Mungkin kalau dulu tidak ada Gus Dur, jumlah penduduk Tionghoa yg ada di Indonesia sekarang, bisa dibilang tinggal hitungan jari saja.”

Gue:
“Hmmm oke lanjut. Sekarang gak lagi ngomongin Imlek. Sebagai umat Kristiani, yang mas rasakan ada gak peran nyata Gus Dur dalam membantu teman-teman Kristiani?”

Amri:
“Salah satu peran Gus Dur yang masih jelas dan masih terkenang-kenang dalam  ingatan  saya adalah dalam hal pembangunan rumah ibadah, mas. Dan ini saya alami sendiri. Sekedar sharing aja nih, mas. Dulu zaman pra Gus Dur, di daerah saya, untuk bangun rumah ibadah bagi kaum minoritas terbilang sulit, berbeda dengan kaum mayoritas. Saya tidak bermaksud menyalahkan agama apapun. Karna saya yakin tidak ada agama yg tidak baik. Namun, orang-orang yang menjalankannyalah yg terkadang “kurang baik”. Ya syukur pada Yang Maha Kuasa, setelah ada Gus Dur, pembangunan rumah ibadah di daerah sya lebih mudah atau tidak dipersulit seperti sebelumnya. Dan saya pernah dengar perkataan beberapa orang tua di daerah saya, kata mereka, Gus Dur pernah bilang, “kenapa kalau untuk bangun rumah ibadah kaum mayoritas itu mudah, tapi untuk kaum minoritas cenderung dipersulit”. Namun saya gak tau perkataan itu benar atau tidak diucapkan beliau, yang pasti perkataan itu sudah tidak asing lagi di daerah saya, mas.”

Gue:
“Wah ternyata mas ngerasain sendiri yang kayak gitu ya. Tapi syukur kalau sekarang udah gak gitu lagi. Oke pertanyaan berikutnya. Sebagai referensi dan pengetahuan saya, setahu mas, ada gak kegiatan-kegiatan yang dilakukan temen-temen non muslim yang merupakan wujud kagum dan rasa terima kasih kepada Gus Dur?”

Amri:
“Mungkin yang saya tahu dan sudah alami langsung  adalah gelar do’a bersama buat alamarhum. Kalau wujud langsung sebagai rasa terima kasih kepada almarhum saya kurang begitu tahu, mas. Namun, saya yakin itu “pasti ada”.  Lagi pula wujud terimakasih itu tidak selamanya berupa materi dan uang kan? Bisa aja dalam berupa penerimaan ajaran beliau. Contohnya, kalau di daerah saya itu, dulunya kaum  mayoritas dan minoritas itu tidak terlalu begitu kompak, mas. Tapi sekarang ini, semenjak ada beliau, hubungan antara kaum  mayoritas dan  minoritas itu dekat sekali. Contohnya, kalau ada teman Muslim yang melakukan pesta pernikahan, maka yg Kristen nya ikut membantu dan yg Muslim sangat menerima. Dan begitu juga sebaliknya. Padahal kita tahu, di daerah lain, maaf, jangankan mau membantu, tidak semua kaum mayoritas mau menyentuh piring tempat makan orang Kristen.”

Gue:
“Wah syukur banget berarti. Pertanyaan terakhir. Saya dan temen-temen lain sebagai NU dan pengikut Gus Dur, sudah sepantasnya meneruskan perjuangan beliau. Kira-kira ada masukan apa buat kami untuk secara nyata melanjutkan perjuangan Gus Dur tersebut?”

Amri:
“Harapan saya semoga NU dan pengikut Gus Dur “benar-benar” melanjutkan perjuangan almarhum. Artinya, pengikut NU dan Gus Dur itu harus sepaham dulu karna bisa aja kan mas kalau dalam internalisasi organisasi itu terdapat perbedaan pendapat. Namun ada baiknya perbedaan itu diminimalisir. Sukses selalu. Do’a kami di nadimu para pengikut NU.”

Gue:
“Oke terima kasih banget mas.”

Amri:
“Oh ya, kalau boleh Sedikit tambahan, mas. Contoh konkret ajaran Gus Dur yang bisa saya ambil dari peristiwa kemarin, banjir Jakarta, adalah Senang melihat anak bangsa bahu membahu menolong sesama. Batasan suku agama dan ras tidak terlihat lagi. Bahkan isu primordialisme dan isu-isu agama tidak muncul. Semua melayani sebuah kebenaran universal bahwa ajaran budaya dan agama mengarah pada kembalinya fitrah manusia itu sendiri. Ini yang harusnya ada pada saat bangsa ini dalam keadaan tenang. Semoga tidak hanya terjadi saat bencana saja. Kalau iya akhlak bangsa hanya baik saat ada “musuh bersama”, sayangnya bila itu yang menjadi realita, tanpa musuh bersama maka kawan akan berubah menjadi musuh. Ayo Bhinneka! Ayo Indonesia!”

Gue:
"Oke sip, mas! Sekali lagi terima kasih banget buat jawaban dan info-infonya. Semoga bermanfaat bagi saya pribadi, dan syukur-syukur bermanfaat juga bagi temen-temen yang lain. Sukses selalu, mas. Salam Indonesia!”


Ya, begitu lah tanya-jawab gue berikutnya dengan Amri. Dari dua percakapan tadi, agaknya banyak sekali info, pengetahuan, dan pesan-pesan yang harusnya dapat bermanfaat bagi kita semua.

Terakhir, gue nulis post ini gak semata-mata karena gue orang NU. Oke, memang gue orang NU dan pengikut Gus Dur, tapi gak cuma itu alasan gue nulis ini. Tapi juga untuk mengingatkan kembali bagi gue pribadi dan lo semua akan jasa-jasa Gus Dur kepada bangsa ini. Kita harus lanjutkan itu. Gak cuma kita yang NU saja, tetapi seluruh anak bangsa harus ikut melanjutkan perjuangan Gus Dur agar terciptanya Indonesia yang lebih baik. Indonesia lahir dari keberagaman, biarkan tetap hidup dalam keberagaman. Jangan paksakan keberagaman ini menjadi satu faham yang memaksa. Junjung tinggi keberagaman yang harmonis, yang bersahabat, seperti yang Gus Dur inginkan, seperti yang kita inginkan, dan seperti yang bangsa ini inginkan. Salam Indonesia!
Terima kasih, dan wassalam.

Wednesday, January 9, 2013

Hobbies at Corner

















Rabu, 9 Januari 2013, jam 11.00 WIB, gue kuliah Audit Keuangan Sektor Komersial di rung J307 Gedung J Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. "Terus kenapa Zop? Kita gak peduli tuh lo jam segitu lagi ngapain." Berisik emang lo ya?! Kalau gitu gak usah buka blog gue dong!

Ya sodara-sodara, jadi itu adalah kuliah AKSK terakhir gue. Jadi hari Senin tanggal 14 Januari ntar gue udah UAS, makanya minggu ini semua kuliah akan berakhir. Nah yang namanya mahasiswa, tugasnya waktu di kelas apaan? Ya, bener banget, Tidur. BUKAN! Maksudnya ya belajar lah ya. Ya itu kalau mahasiswa yang bener. Kalau yang gak bener kayak gue? Ya tidur itu tadi.

Nah tadi waktu kuliah AKSK terakhir itu, gue duduk paling belakang (seperti biasanya), otomatis kesempatan baik buat tidur. Tapi sodara, anda gak akan berani tidur saat kuliah AKSK. Karena dosen AKSK gue itu... gimana ya ngomongnya... gak serem sih... tapi kalau ngomong menyakitkan (maaf-maafan lagi ya pak?). Nah jadi gak mungkin gue mau tidur, atau bisa-bisa dikatain yang sengata-ngatainnya orang ngatain deh. Dan daripada gue nganggur dan bengong gak jelas, ya udah gue PINJEM aja pulpen dari temen gue, Tia. Gue pinjem pulpen, dan gue keluarin selambar (lagi) kertas binder. SREEETTTTT! Dan gue mulai nggambar corat-coret gak jelas.

Setelah corat-coret sambil ngobrol sama Mega, temen yang duduk sebelah gue, dan juga sesekali lihatin muka dosen dan pura-pura ngangguk-ngangguk selama kira-kira 1,5 jam, gue lihat kertas, tahu-tahu udah jadi gambar ini. Yaudah deh akhirnya gue tanda tangan aja dan gue upload deh di Twitter dan blog! Gak peduli sama cerita gue? Yaudah pergi sono! "Ceilee gitu aja ngambek ~ Senyum dong :3" Berisik lo homo!

Udah dulu ya, males nih gue ada si homo yang berisik banget itu.

Oh ya, maksud dari gambar yang gue kasih judul "Hobbies at Corner" ini ya bisa lo lihat sendiri kan ya? Gue coba nggambar some stuffs yang berhubungan dengan hobi-hobi gue, yang ada di pojok ruangan. Ada kartu yang nunjukin sulap, kertas gambar-pensil-penghapus buat nggambar, palet dan kuas buat ngelukis, dan tentu saja ada gitar juga. So, that is my (useless) product today. Sekian dan terima kasih.

Sunday, December 16, 2012

Single is My Trouble

Ibarat orang yang jongkok di atas WC, tapi susah buang air besar, itu lah yang gue rasain sekarang ini. Maksudnya? Ya, badan gue gak jelas rasanya gimana. Ibarat orang Pekalongan bilang “ora ngalor, ora ngidul”, artinya “gak ke utara, gak ke selatan”. Maksudnya ya kayak yang tadi gue bilang itu, diri gue saat ini gak jelas rasanya gimana. Mau bilang lemes tapi gara-gara apa gue gak tahu, mau bilang gak lemes tapi kok bawaannya mojok di kamar kosan sambil meluk guling. Setelah gue teliti-teliti, dan berdasarkan survey yang telah dibuktikan oleh Sonny Tulung, akhirnya gue sadar satu hal, mengapa gue gak jelas gini. Alasannya adalah “Dalam Keadaan Pacarannya Gak Jelas (Atau Justru Tak Berpacar), Gue Melihat Temen-temen Gue Pada Mesra-mesraan dengan Pacarnya.” JEGGGEEEEEERRR!!! Sakit, banget lagi, dan pengen nangis.

“Jadi sebenernya saat ini lo punya pacar gak, Zop?” Gak tahu. “Kok gak tahu?” Yah, mau bilang punya pacar tapi mana? Mau bilang gak punya ntar ada yang tersinggung (lagi), jadi gue gak tahu sebenernya gimana. “Hiks… Kasihan banget hidup lo, Zop. Sini gue cium.” BERISIK!!! Oke gue udahin dulu ngomong sendirinya. Jadi sampai sekarang gue masih bingung mengenai fakta kenapa gue bisa dikatakan semacam “tidak laku”. Kalau dipikir-pikir, banyak yang bilang kalau muka gue mirip Demian. “Mana orang yang ngomong gitu?! Kita bakar hidup-hidup!” Yah, atau setidaknya gue gak jelek-jelek amat lah. Tapi kenapa gak ada cewek yang mau jadi pacar gue, atau gak mau “bener-bener” jadi pacar gue? Jangan-jangan gue kuwalat gara-gara apa yang telah gue lakuin tempo dulu? Mungkin saja. Jadi, dulu pas baru masuk SMP, gue kelihatan imut banget. “Oke ciyus ini mana orang yang ngomong gitu?! Emosi gue!” Lo diem dulu kenapa?! “Oke sorry bos. Lanjut ceritanya!” Nah waktu itu ada cewek dari kelas lain masuk ke kelas gue. Dan dia cakep banget bung. Sontak semua temen-temen cowok sekelas pada lihatin dia semua. Dan lo tahu apa yang cewek itu lakuin setelah masuk ke kelas gue? Dia nyamperin gue bung! NYAMPERIN GUE! ANJRROOTT!!! Gak katarak tuh cewek?! Dia deketin gue…

Ine (samaran): “Sof, bisa keluar?”
Gue: “kalau kamu megangin tanganku gini ya bentar lagi bisa keluar.”

PLETAAAKKK!!! Gue dijitak.

Akhirnya si Ine narik gue keluar kelas secara paksa. Dan setelah di luar kelas, gue mencoba tanya ke dia.

Gue: “ada apa sih?”
Ine: “aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
Gue: “iya apa?”
Ine: “aku… aku… aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku?”

BAJJJIGUURRRRR!!! Gila banget gue! Baru masuk SMP beberapa minggu, udah ditembak cewek. Padahal waktu itu, gue berangkat sekolah aja masih pakai bedak, ingus juga masih menjuntai kemana-mana. Dan itu pertama kalinya gue ditembak cewek. Gue diam.

Ine: “jadi… gimana sof?”

Gue pun mencoba menjawab dengan gentle-nya.

Gue: “aku… gak tahu apa maksud kamu apa. Aku gak ngerti gituan”

Dan gue langsung lari masuk ke kelas.

Krik krik krik krik krik krik

Satu kata yang terpikirkan di benak gue sekarang. GOBLOK!!! Goblok sekali gue waktu itu! Kenapa gak gue “iya”-in aja. Kalau saja waktu itu gue nerima si Ine jadi pacar gue, mungkin hidup gue bakalan bahagia sentosa selama-lamanya. Gak sengsara kayak gini.

Besoknya, di laci meja gue ada surat dari si Ine. Dalam surat itu bertuliskan “Lo bakal menyesal! FU*K YOU!!!” Oh my goat. Setelah gue ditembak, gue malah di-FU*K-in. Nista banget gue. Tapi apa yang tertulis di surat itu benar-benar terjadi. GUE MENYESAL! Ya, setelah gue kelas 3 SMP, gak banyak yang berubah dari diri gue. Gue masih ingusan, meski udah gak pakai bedak. Sebenernya sesekali pakai juga deng. Dan gue masih kelihatan BEGO! Sementara si Ine, dia benar-benar jadi cewek populer di sekolah gue. Kalau gue itung-itung, selama SMP Ine udah gonta-ganti cowok sebanyak 4,5 kali. Sedangkan gue? Gue gonta-ganti popok 4,5 kali per minggu. Hina, benar-benar hina. Kalau lewat depan gue, Ine mesra-mesrain sama cowoknya. Gue gak mau kalah, gue juga mesra-mesrain sama cowok gue. WOTDEFAAAK!!! Pokoknya selama SMP gue hanya jadi cowok goblok yang ada di pojok tembok, yang menangis terharu saat lihat seorang cewek yang pernah nembak gue, bercinta dengan cowok-cowoknya. Dan gue hanya bisa bercinta dengan tembok. “Hai tembok, nyong demene pok karo kowe! Yakin po’o ra ngapusi.”

Nah kalau lihat kehidupan gue pas SMP, harusnya gue gak heran kalau sekarang gue masih tetep hina dalam masalah percintaan. Tapi kalau dipikir lagi, apa salah gue sebenernya? Apakah gue memang ditakdirkan sedemikian rupa untuk selalu sengsara. Oh God, why God? WHY?!! Dan jadi jomblo adalah hal yang sangat menyakitkan. Kalau ada yang bilang “jadi jomblo tuh seneng, jadi bisa bebas mau ngapa-ngapain”, satu kata yang gue bilang, BULLDOG!!! Eh, maksud gue BULLSHIT!!! Gak mungkin yang dirasain jomblo kayak gitu. Kalau emang kayak gitu, gue jamin orang itu gak normal. Gue yang udah expert dalam hal ini bung! EXPERT!!! Buktinya jomblowan dan jomblowati tuh gak mau kelihatan kalau dia jomblo. Gue pernah melakukan riset yang menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan. Dan hasil riset ini telah di-oh-iya-bener-kan oleh salah satu temen kos gue yang juga jomblo sejati, Febry Widhi Saputra. Jadi hasil risetnya gini. Bahwa saat berada di tengah sekumpulan orang, misalnya lagi ngobrol rame-rame, kalau lo lihat orang sering megang hape, berarti orang itu JOMBLO TULEN!!! “Lha kok bisa?” Tentu saja. Kalau orang pacaran, dia bakal megang hape seperlunya aja, misalnya buat bales sms dari pacarnya. Sedangkan jomblo, karena gak mau kelihatan kalau hapenya gak laku, dia bakalan megang hape, bentar-bentar megang hape lagi. Bukan buat bales sms, tapi lo tahu buat apa? Buat BUKA KUNCI, lalu CEK PULSA, dan TUTUP KUNCI. Jlebbb!!! WHAT THE FU*KING THAT WE’VE DONE?!! Ya gak? Gue yakin lo menyadarinya, khususnya para jomblo mania. Kenapa gue bisa tahu? Karena pengetahuan gue luas. BUKAN! Karena gue sendiri selalu ngelakuin itu. Hiks hiks hiks…

Itulah yang sebenernya dirasain oleh jomblo. Mungkin lo yang udah punya pacar gak mengerti apa yang secara hakiki kita rasain. Juga mungkin lo yang rada-rada gak normal, gak bakalan ngerti gimana perasaan para jomblo. Gue ambil contoh dari temen gue sendiri, Moh. Irzam Hasani. Dia adalah semacam manusia, pejantan, tapi TAKUT sama cewek. “WHAT?!!” Ya, dia takut sama cewek. Pernah suatu hari pas masih SMA, pas dia ujian semester susulan, dia ditempatkan sendiri di ruang BK. Nah, kebetulan temen cewek sekelas gue waktu itu, Shasha, juga ikut ujian susulan itu. Akhirnya Shasha juga disuruh ngerjain di ruang BK bareng Irzam. Shasha adalah beneran manusia, betina, dan banyak disukai cowok, karena dia salah satu cewek TERCANTIK di sekolah gue. Setelah mereka selesai ngerjain ujian, mereka keluar dari ruang BK. Gue lihat si Irzam mukanya pucet banget.

Gue: “kenapa lo zam? Gak bisa ngerjain soal?”
Irzam: “bukan. Gue gemeteran”
Gue: “hah? Kenapa emang?”
Irzam: “gara-gara ngobrol sama Shasha”
Gue: “nah emang ngobrol apaan?”
Irzam: “bukan. Gue baru mau coba ngobrol sama dia, eh udah keringet dingin. Lidah gue terasa kaku. Dan pandangan mulai kabur.”
Gue: “Lo epilepsi?”
Irzam: “bentar pik, gue ke toilet dulu”

Nah ini nih contoh cowok yang salah gaul. Pantes gue lihat si Irzam fine-fine aja biarpun gak punya pacar. Ternyata dia “beneran” rada gak normal. Tapi syukur alhamdulillah, berkat bantuan gue, sekarang si Irzam ini sudah punya pacar, dan sangat harmonis sekali hubungannya. Wuiiihhh, bangga gue. “Jadi lo bantuin temen lo sampai punya pacar dan harmonis, sedangkan lo sendiri gak jelas punya pacar atau gak, gitu Zop?” Ahhh bego gue! Kenapa gue gak sadar?! Zam, cepet putus lo!!!

Nah itu lah alasan kenapa orang-orang yang rada gak normal gak mengerti gimana sakitnya para jomblo. Apalagi orang-orang yang sudah punya pacar. Mereka kadang lebih tidak berperikemanusiaan kepada kaum jomblo. Mereka gak menghargai dan menyadari bahwa di luar sana, di pojok kamar, di atas WC, dan di kolong jembatan, ada orang-orang jomblo yang menderita. Mereka kadang sok romantis di depan kami, tapi kadang mereka gak menghargai pasangannya. Mentang-mentang mereka gak pernah ngerasain susahnya dapet pacar kali ya? Contoh sok romantisnya gini. Pas gue kelas 3 SMA, gue kan masih aktif di MPK, dan saat itu OSIS dan MPK SMA gue masih ada acara. Dan sekertaris OSIS, Hendri, dengan entengnya ngomong gini

“sorry semuanya, gue ijin dulu. Gue mau ke Bandung (samaran). Cewek gue mau ngomong sesuatu sama gue”

Denger dia ngomong gitu, cewek-cewek malah pada bilang “so sweeeet!”. Kalau para cowok malah pada gondok jengkel setengah mati. Kalau kata gue, LO BEGO HEN!!! Ngapain cuma mau ngomong sesuatu pakai ke sana segala?! Lo manusia purba yang gak punya HP?!! Telpon atau sms kan bisa! Atau lo mau ngejek gue yang gak bisa ngomong dan ngelakuin hal macam itu?! TAEK LO HEN!

Terus contoh nyata dari orang-orang yang gak menghargai pasangannya, juga dialami temen gue. Gue ambil contoh dari pengalaman temen gue dulu. Di facebook, dia pernah bilang gini…

“sebelum pacaran begini obrolannya:

Pria: akhirnya! Aku sudah menunggu saat ini untuk tiba
Wanita: apakah kau rela kalau aku pergi?
Pria: tentu tidak! Jangan pernah kau berpikiran seperti itu
Wanita: apakah kamu mencintaiku?
Pria: tentu! Selamanya akan tetap begitu
Wanita: apakah kau pernah selingkuh?
Pria: tidak! Aku tak akan pernah melakukan hal buruk itu
Wanita: maukah kau menemuiku?
Pria: ya
Wanita: sayangku…

Namun setelah 3 bulan pacaran, obrolannya: silahkan dibaca lagi, tapi dibalik dari bawah ke atas…”

Nah silahkan lo baca sendiri gimana jadinya obrolan tersebut. Tentu sangat jahat. Gue gak habis pikir kenapa si Pria dengan gampangnya ngomong gitu. Sekali lagi gue bilang, cowok tersebut pasti tipe cowok cakep, populer, dan LAKU, yang gak pernah ngerasain gimana susahnya nyari pacar. Kalau gue, gak bakalan gue ngelakuin itu. Kenapa? Ya pasti lah. Gue nyari pacar aja susahnya minta ampun, dari mana sejarahnya kok setelah dapet pacar malah gue gituin?! Apalagi kalau cewek yang jadi pacar gue itu cakep, baik hati, suka menolong, dan rajin menabung. Masya Allah… baru ngebayangin aja udah terharu gue.

Begini lah kenyataan pahit yang gue, dan temen-temen jomblo, rasakan sampai sekarang. Tapi buat para jomblo, jangan berkecil hati. Karena jomblo bukan berarti homo. Lho? Itu tah moto idupnya Mongol. Maksud gue jomblo bukan sesuatu yang pantas untuk jadi penghalang hidup kita. Gue gak bakalan bilang kalau “jomblo itu bikin seneng”, tapi gue bakalan bilang bahwa banyak hal yang bisa kita dapet selama kita jomblo. Contohnya adalah CITA-CITA. Dengan berjomblo, kita bisa berusaha meraih cita-cita tanpa ada pacar yang mengatakan: “kamu lebih milih cita-cita atau aku?”. Terus bagi temen-temen yang udah punya pacar, jangan sia-siakan anugerah agung tersebut. Selalu berpikir bahwa di luar sana banyak kaum dhuafa yang gak bisa merasakan apa yang namanya pacaran. Jadi jaga, dan perlakukan pasangan lo dengan sebaik-baiknya. Sekian dulu bualan gue. Gue mau ngambil guling, mojok di kamar, dan ngobrol sama tembok dulu. What I can say: “Single isn’t a trouble, but it makes a struggle.” Sekian, dan wassalam…

Monday, October 1, 2012

Tetris Battle Membatalkan Puasa!


TETRIS BATTLE MEMBATALKAN PUASA!
Ahh, siapa yang gak tahu game Tetris Battle? Pasti semuanya tahu kan? Ya, game yang sering dimaenin lewat Facebook ini memang lagi rame-ramenya dimaenin para pengguna Facebook, terutama anak-anak kos gue! Saat ini gue dan temen-temen lagi ngebet-ngebetnya maen game classic yang satu ini. Bahkan kadang kita battle satu kosan, kadang juga battle satu kamar, super lah pokoknya.

Padahal kisanak, game online yang super keren saat ini jumlahnya sangat banyak. Semacam Dota, Counter Strike, Point Blank, dsb. Tapi entah gue yang katrok, atau ndeso, gue gak pernah tertarik sama sekali dengan game-game online tadi. Hanya ada dua game online yang menarik hasrat gue. Dan anehnya, dua game tersebut justru game rendahan berupa Texas Hold’em Poker dan Tetris Battle yang gue sebutin tadi. Texas Hold’em Poker udah gak gue maenin lagi. Soalnya gue maen game ini pada waktu SMA, yang otomatis gue cuma bisa maen game ini di warnet. Sedangkan rata-rata duit yang gue habisin setiap kali gue maen Poker di wanet, sama dengan total uang saku gue selama dua hari. Jadi sekarang lo tahu kan kenapa gue berhenti maen Poker online itu? Ya, karena gue sempet puasa sebulan demi bisa maen game tersebut. Kalau gak salah pas Ramadhan tahun 2009. Sedangkan Tetris Battle, sekarang masih terus gue maenin karena kos gue ada wi-fi nya. Jadi gak peduli siang malem, di kamar dan di WC, gue siapa sedia untuk menantang anda dalam game ini!

Terus Zop, kenapa lo bilang kalau game Tetris Battle ini membatalkan puasa? Bukankah di Al-Qur’an, Hadits, dan kitab-kitab gak ada yang mengatakan hal itu? Anda benar anak muda. Tapi juga benar adanya bahwa hari ini ada seorang bego, yang puasanya batal gara-gara Tetris Battle! Ceritanya seperti apa? Simak segera!

Jadi sodara, ceritanya gini. Minggu malem, tanggal 30 September 2012, ya baru kemaren, gue pulang ngajar sekitar jam sepuluh malem. Waktu itu kebetulan gue belum makan malem, jadi langsung mampir warung aja sekalian. Gue beli nasi putih dua bungkus, satu lele goreng, dan dua tempe goreng. Totalnya Rp 9000, dan gue bayar Rp 4000, sisanya gue janji bakalan bayar bulan depan. Nah, setelah Budhe penjual warungnya berhasil gue perdaya, gue pun melanjutkan perjalanan menuju kosan.
Sampai kosan gue makan deh nasi yang sebungkus tadi, sebungkus lagi buat sahur ntar. Lele gue bagi dua, tempe gue makan satu, MANTAB! Selesai makan, gue udah siap-siap buat tidur. Ophand, temen sekamar gue, yang tadinya masih tidur, sekarang justru malah terbangun begitu tahu gue mau tidur. Bentar-bentar! Itu gimana caranya dia bisa tahu kalau lo mau tidur, Zop? Mana gue tahu. Yang jelas dia terbangun dengan segera, begitu gue “mapan” dia atas kasur dan bantal gue.

Ophand           : “Lo udah mau tidur, Zop? Baru jam setengah 12.”
Gue                  : “Iya sih masih sore. Tapi besok gue kuliah pagi, terus mau bangun malem
   buat sahur gue, pan.”
Ophand           : “Halah paling ujung-ujungnya tidur jam 2 kayak biasanya.”
Gue                  : “Gak lah. Ini mau maen Tetris bentar, soalnya baru makan juga. Abis itu
                           langsung tidur gue.”

Dan gue pun maen Tetris bentar. Satu battle, dua battle, tiga, empat, sampai akhirnya gak sadar gue udah maen 17 BATTLE!!! Dan gue lihat jam, MAMPUS!!! Udah jam satu kurang! Mati gue! Bisa-bisa gue gak bisa bangun sebelum shubuh. Gue langsung tutup laptop, dan langsung tidur. Si Ophand cuma ketawa-ketawa lihat gue panik. Sebenernya gue pengen nyumpel mulutnya pakai kancut, tapi takut gak jadi tidur lagi, jadi mending gue pura-pura gak denger aja.

Gue pasang alarm jam 4 kurang 10, dan langsung merem tanpa peduliin ocehannya Ophand. Gue tidur cukup nyenyak kemaren. Dan seperti biasa, gue mimpiin Sherina Munaf juga kemaren. Lagi asyik-asyiknya kejar-kejaran sama Sherina di pinggir pantai, tiba-tiba alarm hp bangunin gue dengan segera. Gue lihat hp, WHAT?!! UDAH JAM 4.34!!! MATI!!! Gue buru-buru keluar kamar. Di ruang tengah, temen gue, Widhi, lagi asyik maen game.

Gue                  : “Lo gak tidur, Wid?”
Widhi               : “Gak. Orang gue gak ada kuliah.”
Gue                  : “Eh, ini udah Shubuh belum sih?”
Widhi               : “Belom. Paling seperempat jam lagi.”

Gue langsung lari ke dapur ambil nasi. Tanpa banyak cing-cong, langsung gue habisin tuh nasi sebungkus, lele separo, dan tempe goreng sebuah. Selesai makan, gue lihat jam, Alhamdulillah masih jam 4.42. Tadi kan si Widhi bilang sekitar seperempat jam lagi, jadi kira-kira jam 4.45an. Lagian dari tadi gue belum denger ada adzan sama sekali. Beruntung lah masih sempet sahur juga.

Gue duduk-duduk sekitar 3 menitan, kok belum adzan juga ya.

Gue                  : “Wid, ini beneran belum adzan kan?”
Widhi               : “Belum kok. Orang dari tadi gak denger adzan sama sekali.”

Tapi rasanya ada yang aneh. Seinget gue kemaren-kemaren Shubuhnya gak setelat ini. Tapi memang belum ada adzan kok. Sambil nunggu adzan, gue main Tetris Battle aja dulu.

Pas gue lagi maen battle ke-empat, tiba-tiba di luar terdengar suara “Roti Roti… Roti Roti…” Hah?! Bukannya biasanya abang roti datengnya jam setengah 6an? Paling gak abis Shubuh lah. Tapi kok sekarang udah lewat di depan ya? Gue langsung buka tab baru, dan gue ketikin “Jadwal sholat Tangerang Selatan”. Ketemu hasil, dan gue klik lagi. Gue lihat tanggal 1 Oktober, BAJJJIGGGGUUUURRRR!!! Di sana tertulis, waktu Shubuh hari ini adalah 4.32! EMPAT TIGA DUA BUNG!!! TAEEEKKK!!! Terus ngapain tadi gue makan buru-buru?!! Gue keluar kamar sambil nggebrak pintu.

Gue                  : “HEI KANCUT! Lo bilang gak denger adzan?! Orang di internet gue lihat
                           adzannya jam setengah 5 kok!”
Widhi               : “Ciyuuusss? Miapaahhh? Aku gak denger lho.”
Gue                  : “BERISIK!!! Terus sahur gue gimana nih?! Makanya jangan maen game mulu
                           dong! Maen apa sih lo?!”
Widhi               : “Tetris Battle.”

FUUUUUUUUUUUUUU!!! Semuanya gara-gara Tetris Battle! TETRIS BATTLE!!! Gue jadi telat bangun, telat sahur, dan diejek sama abang-abang roti.

Makanya mulai sekarang, harusnya MUI dan ulama-ulama dunia harus mengeluarkan fatwa, bahwa Tetris Battle adalah hal yang MEMBATALKAN puasa! Sialan tenan!!! Jadi pesan buat lo semua, jangan pernah maen game ini pada malam sebelum lo puasa. Atau bisa-bisa kemampuan lo makan lele separo dalam 3 menit, hanya akan terbuang sia-sia. Ciyuuusss!!!